Showing posts with label Warta Umat. Show all posts
Showing posts with label Warta Umat. Show all posts

Akhirnya, pelapor Kaesang ditahan di Polda Metro

3:53:00 PM 0



Pelapor putra bungsu Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep, Muhammad Hidayat Simanjuntak alias MHS resmi ditahan penyidik Ditreskrimsus Polda Metro Jaya. Dia ditahan usai diperiksa selama 1 x 24 di Mapolda Metro Jaya.


Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, penahanan Hidayat kali ini merupakan lanjutan dari penahanan sebelumnya yang sempat ditangguhkan. Di mana dirinya pernah menuding Kapolda Metro Jaya Irjen Mochammad Iriawan sebagai provokator dalam aksi 411.


“Setelah pemeriksaan 1 x 24 jam, pukul 10.00 WIB, penyidik mengeluarkan surat perintah penahanan lanjutan yang akan berakhir 19 Juli. Ditahan 6 hari dari tanggal 14 hingga 19 Juli,” ujar Argo di Mapolda Metro Jaya, Sabtu (15/7).


Argo mengatakan, penyidik saat ini juga telah menyiapkan surat permohonan perpanjangan penahanan untuk Hidayat ke Kejaksaan. Hal itu dilakukan jika penyidik membutuhkan keterangan tersangka kembali.


“Nanti kalau penyidik merasa pemeriksaan belum cukup ya akan diperpanjang lagi penahanannya ke kejaksaan,” katanya.


Sementara itu, Argo menegaskan kalau penahanan itu tidak ada kaitannya dengan laporannya terhadap Kaesang. “Tidak ada kaitannya ya. Ini kan laporannya udah duluan, waktu unjuk rasa November 2016,” tandas Argo.


Seperti diberikan, Muhammad Hidayat Simanjuntak ditangkap polisi karena diduga mengunggah video berbau provokasi berupa unjuk rasa di depan Istana pada Jumat, 4 November 2016. Pada video tersebut, dia menyebutkan kalau Kapolda Metro Jaya Irjen M. Iriawan provokator terhadap peserta aksi untuk menangkap massa.


Dalam kasus tersebut, Hidayat dijerat dengan Pasal 27 ayat 3 jo Pasal 45 ayat 1 atau Pasal 28 ayat 2 jo Pasal 45 ayat 2 Undang-undang ITE Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman hukuman paling lama 6 tahun penjara. [gil/mer]



Pria Gadungan Nyamar Jadi FPI, Niat Adu Domba Dengan TNI, Yang Terjadi Malah Seperti Ini

5:18:00 PM 0


Pria Gadungan Nyamar Jadi FPI, Niat Adu Domba Dengan TNI, Yang Terjadi Malah Seperti Ini


Pada hari Selasa, 11 Juli 2017 seseorang laki-laki yang di curigai dengan membawa 1 buah tas ransel di depan Rumah kediaman Panglima TNI jalan Diponegoro no 10 Menteng berhasil ditangkap.


Berdasarkan informasi yang ditemukan, berikut KRONOLOGIS KEJADIAN :


Pada pukul 12.15 wib, Fungsi Intelkam dan anggota Polsubsektor Taman Suropati Menteng telah mendapatkan laporan dari operator Menteng bahwa ada seseorang laki-laki yang di curigai dengan membawa 1 buah tas ransel di depan rumah kediaman Panglima TNI Jl. Diponegoro No.10 Menteng.


Sebelumnya laki-laki tersebut sempat marah-marah di pos polisi Taman Suropati Menteng dengan mengucapkan akan membakar pos tersebut, selanjutnya piket fungsi intelijen dan anggota pos Polsubsektor Taman Suropati men-sweeping lokasi dan ditemukan orang tersebut berada di pintu masuk rumah dinas panglima TNI.


Adapun identitas laki-laki tersebut adalah :


Nama : Mirwan Siregar

TTL : Jakarta, 05 Juli 1979

Pekerjaan : karyawan

Alamat : Tanah Sereal XVIII RT.10/07 Tanah Sereal Jakarta Barat.

Pelaku diamankan di Polsek Menteng.


Dengan mengenakan pakaian kaos warna hitam bertuliskan Front Pembela Islam, pria tersebut berhasil diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut.



INIlah Puisi Panglima TNI yang Bikin Panas Telinga Presiden Jokowi Dan Kroninya

3:58:00 PM 0

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tidak terima Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengkritik pemerintahan Jokowi saat ini.


“Kalau Panglima bermaksud dengan puisi ini untuk kritik pemerintahan Jokowi, salah alamat deh. Jangan-jangan ibarat menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri,” kata Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira, Selasa (23/5) dikutip dari Tribunnews.


Kata Andreas, harusnya Panglima TNI berbicara tentang ajaran Bung Karno seperti Trisakti dalam membangun bangsa Indonesia.


“Kalau Panglima TNI paham itu, seharusnya, jauh lebih berisi dan bermakna jika panglima berbicara tentang Trisakti, tentang Neokolonialisme-neoimperialisme ajaran Bung Karno. Jauh lebih untuk seorang ksatrya TNI, apalagi panglima,” jelasnya.


Salah alamat kalau puisi itu maksudnya sebagai perlawanan atau kritik Panglima TNI terhadap Pemerintah.


“Wong…situasi ini lahir karena proses sejak orde baru. Justru pemerintah sekarang sedang mengembalikan ke rel Trisakti,” katanya.


Berikut puisi lengkap karya Denny JA, ‘Tapi Bukan Kami Punya” yang dibacakan Gatot:


Sungguh Jaka tak mengerti
Mengapa ia dipanggil polisi
Ia datang sejak pagi
Katanya akan diinterogasi


Dilihatnya Garuda Pancasila
Tertempel di dinding dengan gagah
Terpana dan terdiam si Jaka
Dari mata burung garuda
Ia melihat dirinya
Dari dada burung garuda
Ia melihat desa
Dari kaki burung garuda
Ia melihat kota
Dari kepala burung garuda
Ia melihat Indonesia


Lihatlah hidup di desa
Sangat subur tanahnya
Sangat luas sawahnya
TAPI BUKAN KAMI PUNYA


Lihat padi menguning
Menghiasi bumi sekeliling
Desa yang kaya raya
TAPI BUKAN KAMI PUNYA


Lihatlah hidup di kota
Pasar swalayan tertata
Ramai pasarnya
TAPI BUKAN KAMI PUNYA


Lihatlah aneka barang
Dijual belikan orang
Oh makmurnya
TAPI BUKAN KAMI PUNYA


Jaka terus terpana
Entah mengapa
Menetes air mata
Air mata itu IA YANG PUNYA


-000-



Masuklah petinggi polisi
Siapkan lakukan interogasi
Kok Jaka menangis?
Padahal ia tidak bengis?


Jaka pemimpin demonstran
Aksinya picu kerusuhan
Harus didalami lagi dan lagi
Apakah ia bagian konspirasi?
Apakah ini awal dari makar?
Jangan sampai aksi membesar?


Mengapa pula isu agama
Dijadikan isu bersama?
Mengapa pula ulama?
Menjadi inspirasi mereka?


Dua jam lamanya
Jaka diwawancara
Kini terpana pak polisi
Direnungkannya lagi dan lagi


Terngiang ucapan Jaka
Kami tak punya sawah
Hanya punya kata
Kami tak punya senjata
Hanya punya suara


Kami tak tamat SMA
Hanya mengerti agama
Tak kenal kami penguasa
Hanya kenal para ulama


Kami tak mengerti
Apa sesungguhnya terjadi
Desa semakin kaya
Tapi semakin banyak saja
Yang BUKAN KAMI PUNYA


Kami hanya kerja
Tapi mengapa semakin susah?
Kami tak boleh diam
Kami harus melawan
Bukan untuk kami
Tapi untuk anak anak kami


-000-


Pulanglah itu si Jaka
Interogasi cukup sudah
Kini petinggi polisi sendiri
Di hatinya ada yang sepi


Dilihatnya itu burung garuda
Menempel di dinding dengan gagah
Dilihatnya sila ke lima
Keadian sosial bagi seluruh rakyat Indonesia


Kini menangis itu polisi
Cegugukan tiada henti


Dari mulut burung garuda
Terdengar merdu suara
Lagu Leo kristi yang indah
Salam dari Desa
Terdengar nada:
“Katakan padanya padi telah kembang
Tapi BUKAN KAMI PUNYA”


Mei 2017 (SN/GR)