Tes Sederhana Menghitung Panjang Usia Manusia

2:13:00 AM 0
Tak ada waktu berolahraga? Terlalu malas menyiapkan makanan sehat sendiri? Gaya hidup tidak sehat seperti ini terkadang membuat kita takut terhadap kondisi kesehatan. Pertanyaan apakah kita akan berumur panjang? Nah, kini ada tes sederhana untuk mengetahuinya.

Seorang dokter di Brasil menemukan tes sederhana untuk memprediksi berapa lama usia seseorang. Tes yang dinamakan Sitting Rising Test (SRT), alias tes duduk berdiri ini telah terbukti bisa memperkirakan risiko kematian seseorang dalam lima tahun ke depan.

Dr.Claudio GIl Araujo, PhD, spesialis olahraga dan kedokteran olahraga, adalah orang yang menemukan tes yang mudah, cepat, dan bisa dilakukan di mana saja ini. Cara melakukan tes SRT ini sederhana. Cukup sediakan alas duduk di lantai sekaligus pengaman apabila kita terjatuh saat akan berdiri.

Caranya dimulai dengan duduk bersila di atas matras. Lalu, kita harus berdiri tanpa memikirkan seberapa cepat hal itu bisa dilakukan. Yang diamati cuma seberapa banyak bantuan yang diperlukan untuk bisa berdiri.

Jika kita bisa mengubah posisi dari posisi bersila ke posisi berdiri tanpa bantuan, maka poinnya adalah 5. Kembali lagi ke posisi awal poinnya 5. Tetapi jika kita menggunakan bantuan, baik itu tangan, jari, atau lutut, untuk menopang saat kita duduk atau berdiri, maka setiap jenis bantuan itu akan mengurangi masing-masing 5 poin. Mendorong badan saat berdiri juga mengurangi poin.

Untuk setiap poin yang Anda dapatkan, maka kemungkinan penurunan risiko kematian sebesar 21 persen. Skor 3 atau kurang maka risiko kematiannya akan lebih besar.

Menurut Araujo, ia mendapatkan ide membuat tes SRT setelah mengamati pasien-pasiennya yang berusia tua atau yang gaya hidupnya lebih banyak duduk, namun bisa melakukan tes aerobik.



Sumber : kompas

Lima Butir Telur untuk Tiga Orang

3:24:00 AM 0
Wah Abu Nawas kali ini mendapatkan tantangan untuk membagi lima telur untuk dibagikan kepada tiga orang tanpa harus pecah. Namun, bukanlah Abu Nawas jika tidak mampu memecahkan persoalan yang sulit seperti ini.

Berikut Kisahnya

Pada hari itu, tiba-tiba saja raja merasakan rindu untuk bertemu dengan Abu Nawas. Namun, raja ingin menemui Abunawas di rumahnya, bukan di istana.
"Wahai pengawal, hari ini aku ingin ke rumah Abu Nawas. Sekarang juga kamu ambil kuda yang terbaik, "titah Raja Harun Ar-Rasyid.

Pengawal itu pun meminta penjaga kuda menyiapkan kuda yang terbaik dan dipilihlah kuda yang berwarna putih nan gagah dan terlihat sangat sehat sekali.





Setelah kuda putih itu siap, sang raja langsung menungganginya. Dengan gagah, sang Raja memasuki kota, sang raja menemukan pemandangan bagus. Kota dengan tatanan bangunan yang rapi serta jalanan yang halus.

Tak lama kemudian, rombongan raja sudah hampir sampai mendekati rumah Abu Nawas. Namun Abu Nawas sebenarnya sudah mengetahui akan didatangi oleh raja, info diperoleh dari tetangganya. Untuk itu, Abu Nawas keluar rumah untuk menyambut raja.

Abu Nawas Menyamar Jadi Dewa Bumi

Abu Nawas keluar rumah dengan melilitkan handuk di kepalanya. Ia duduk di pinggir jalan melihat arak-arakan sang raja. Raja tertarik dengan sosok lelaki yang berikat kepala handuk itu dan memerintahkan prajuritnya untuk membawa Abunawas ke hadapannya.

"Siapa kamu?" tanya raja.
"Saya ini Dewa Bumi, "jawab Abu Nawas dengan tenang.
"Nah, lantaran kamu Dewa Bumi, tentunya kamu bisa membesarkan mata prajuritku yang sipit ini. Kalau kamu tidak bisa, kamu akan dihukum pancung, "kata raja.
"Ha..., kalau begitu Baginda ini tidak memahami yang aku maksudkan. Aku ini Dewa Bumi dan bukan Dewa langit. Kalau memang Baginda menginginkan agar mata prajurit Baginda yang sipit itu jadi besar, seharusnya Baginda meminta pertolongan kepada Dewa Langit, karena dialah yang mengurus segala masalah dari pusar ke atas, "jawab Abu Nawas.






"Jika Baginda meminta pertolongan kepadaku, urusanku adalah segala yang berkaitan dengan bagian pusar ke bawahkarena aku ini Dewa Bumi, "jelas Abu Nawas lebih lanjut.

Setelah itu, Raja Harun berbincang dengan Abu Nawas beberapa lamanya. Raja sangat terkesan akan kecerdasan yang dimiliki Abu Nawas. Setelah puas berbincang-bincang, Abu Nawas pun diperbolehkan pulang. Namun, beberapa hari kemudian sang raja memerintahkan prajuritnya untuk membawa Abu Nawas ke hadapannya.

Lima Telur untuk Tiga Orang

Salah seorang diantara selir raja telah merebus lima butir telur dan raja mengundang Abu Nawas untuk makan bersama.
"Aku ingin agar kamu yang membagi lima telur ini secara adil dan tanpa harus memecahkan untuk kita bertiga, "kata Raja Harun.

Tanpa ragu-ragu sama sekali, Abu Nawas mengambil lima butir telur tersebut dan berkata,
"Yang Mulia, ini sebutir untuk Baginda sebab Baginda sudah mempunyai dua butir. Saya juga sebutir. Sedangkan yang tiga butir ini untuk istri Baginda, sebab dia tidak punya sebutir pun di bawahnya."

Sejenak raja terdiam, sejurus kemudian Baginda tertawa ngakak dan baru mengerti perkataan Abu Nawas itu. Jawaban Abu Nawas itu menggembirakan hati raja dan setelah makan telur, Abu Nawas diperintahkan untuk pulang dan diberi hadiah.